Iman kepada Al-Qur'an


Al. Imanu Fil-Qur’an

Makna iman yaitu meyakini, membenarkan dengan perkataan, perbuatan dan hati. Dengan demikian, ketika kita mengatakan kita beriman kepada Al-Qur’an, kita mengakui bahwa hanya Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab Allah SWT yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Membenarkan dengan hati dan melaksanakan itu, mengambil dengan sekuat-nya apa yang ada dalam Al-Quran.

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui dalam rangka Al Imanu Fil-Qur’an, yaitu :
1. Kita mengakui bahwa hanya Al-Qur’an yang satu-satunya bisa memberi kita kebahagiaan, tidak ada yang bisa menyamai Al-Qur’an, dan tidak ada pedoman hidup yang lain selain Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an yang bisa menyelamatkan kita dan keluarga kita.


2. Meyakini bahwa Al-Qur’an sebagai Nuur, yaitu cahaya.
Dalam Q.S An-Nisa Ayat 174, yang artinya, “Wahai manusia, telah datang kepadamu Al-Quran dari Tuhanmu dan telah diturunkan kepadamu cahaya yang terang” . Allah mengatakan bahwa: ” Barang siapa yang mencari cahaya selain cahaya Allah, maka ia tidak akan bisa menjalani hidup ini. Orang-orang kafir, mereka tidak punya cahaya, dan mereka berjalan bagaikan orang-orang buta." Sehingga kita harus bersyukur kepada Allah SWT yang menjadikan kita sebagai muslim.


3. Kita mengimani bahwa Al-Qur’an ini adalah petunjuk, menuju surga.
Barang siapa yang mencari petunjuk selain Al-Qur’an maka ia akan sesat.


4. Kita menyakini bahwa Al-Qur’an adalah sebagai pengingat/peringatan.
Ini sesuai dengan fitrah kita bahwa manusia sifatnya lupa. Allah ingatkan kepada kita tentang kondisi akhirat, kondisi neraka jahannam, kondisi orang-orang yang lupa kepada Allah SWT, kondisi surga dan nikmatnya hidup di surga. Semua itu membuat kita semakin mantap dalam menjalani hidup ini. Tidak ada rasa putus asa bagi orang yang meyakini Al-Qur’an. Karena setiap kali kita merasa gundah atau sedih, Al-Qur’an selalu hadir sebagai penghibur hatinya.
Sebagaimana do’a Rasulullah SAW, “ Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an ini sebagai penghibur hati kami, cahaya hati kami, pengusir kesedihan kami”. Setiap kali kita merasa sedih, Al-Qur’an siap menentramkan hati kita. Ini adalah rahmat yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam, tidak kepada umat lainnya.


5. Kita meyakini Al-Qur’an ini sebagai pemberi syafa’at.
Dalam Q.S Al Abasa, pada hari kiamat, semua manusia lari dari saudaranya, dari ibu bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.Kenapa mereka lari? Karena mereka takut diminta amalnya dari saudaranya, padahal mereka selama di dunia saling berkasih sayang. Karena mereka ingin menggunakan amal mereka sendiri untuk keselamatan dirinya sendiri. Pada saat-saat genting seperti itu, Al-Qur’an akan datang untuk memberi syafaat kepada manusia. Al-Quran berkata, “Akulah yang kau baca selama kau di dunia”. Dan Al-Qur’an berkata kepada Allah, “Aku telah mencegah orang ini dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepada orang ini”. Allah berkata, “Syafaatmu Aku terima”. Al-Qur’an akan meminta agar Allah menolong orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an yang memberikan ketentraman dalam hati.


Suatu hari, Ibnu Mas’ud didatangi seorang sahabat yang mengatakan ia sedang gundah. Lalu Ibnu Mas’ud mengatakan agar ia berwudhu, shalat dan membaca Al-Qur’an. Setelah melakukan semua itu, sahabat berkata bahwa segala kebodohan hatinya telah hilang dan ia telah mendapatkan ketenangan hati.
Ketika kita mendapat berbagai permasalahan, semua kembali kepada Al-Qur’an. Al-Quran adalah sebagai khazanah ilmu. Setiap permasalahan ekonomi, pemerintahan, dll, maka jawabannya ada di Al-Quran.
Allah berkata, bahwa barang siapa yang mencari penyelesaian SELAIN di Al-Qur’an, maka ia tidak akan mendapatkannya. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar, memberinya rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka”.


Lalu hal kedua yang kita bahas, adalah Bagaimana menghidupkan Al-Qur’an di rumah kita?
1. Ketika pondasi keimanan kita kuat, kita akan memiliki keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya yang mampu membahagiakan, menentramkan anak-anaknya.
Banyak perintah Rasulullah untuk menghidupkan Al-Qur’an, “ Jangan kalian biarkan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya rumah-rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah, akan lari syetan dari rumah tersebut.”
Sesungguhnya kebahagiaan sebuah keluarga, tergantung sejauh mana keluarga tersebut berinteraksi dengan Al-Qur’an. Allah memperbanyak kebaikan di rumah tersebut, Allah ak! an jauhkan syetan dari rumah tersebut, Allah akan datangkan malaikat ke rumah tersebut, dan akan Allah luaskan rumah tersebut ( misalnya rumahnya kecil, tapi akan terasa luas).
Salah satu di antara pintu rizki adalah banyak membaca Al-Qur’an. Semakin banyak orang membaca Al-Quran, semakin banyak rizki untuk orang tersebut. Semakin sering suatu rumah dibacakan Al-Qur’an, malaikat akan mengusir setan dari rumah tersebut, semakin banyak malaikat yang menjaga rumah tersebut, dan Allah menjaga rumah tersebut dari kebencian orang, dari sihir, dll.
Bila jauh dari Al-Qur’an, akan datang keburukan-keburukan di rumah tersebut, disebabkan rumah tersebut tidak pernah dibacakan Al-Qur’an, rumah menjadi tidak berkah, satu sama lain saling bermusuhan, anaknya menjadi susah diatur, dll, karena rumah tersebut banyak setan. Seperti contohnya, rumah tersebut memainkan lagu2 yang mengundang nafsu (memanggil setan), sedangkan salah satu misi setan adalah untuk memisahkan suami dengan istrinya, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, dst. Malaikat akan lari dari rumah tersebut, karena malaikat tidak akan mau datang ke ruamh yang banyak setannya.
Kiatnya agar Al-Qur’an menempati posisi penting dalam rumah kita, ialah dengan menempatkan ia di tempat pertama dari hal-hal rumah tangga lainnya. Misalnya, ada waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an, tapi orang tuanya menerima tamu, ngobrol, dll. Hal ini menjadikan anak tidak bersemangat. Maka kondisikanlah semua hal di rumah yang mendukung anak senang membaca Al-Qur’an, sehingga mau tidak mau ia ikut membaca Al-Qur’an


2. Membiasakan anak bangun subuh dan pergi sholat ke mesjid. Biasanya orang tua suka tidak tega membangunkan anaknya pagi-pagi. Maka kita tanamkan kepada anak-anak kita apa tujuan kita membangunkan mereka diwaktu subuh dan mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an. Agar anak mengerti kenapa mereka dididik seperti itu, dan tidak merasa terpaksa, kuncinya terletak pada orang tua. Bila orang tuanya tidak mempunyai keinginan, tidak mempunyai kecintaan kepada Al-Qur’an, maka rumah itu akan menjadi gersang.


3. Bagaimana kita melatih diri kita sendiri agar terbiasa membaca, menghidupkan, dan mengamalkan Al-Qur’an?
Ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan sebagai seorang muslim, diantaranya kewajiban membaca dengan baik dan benar. Rasulullah SAW berkata, bacalah Al-Qur’an dengan gaya dan bacaan orang Arab. Al-Qur’an hanya boleh dibaca dengan gaya bacaan orang arab, tidak dengan gaya bahasa jawa, atau jepang dsb.


Membaca Al-Qur’an dengan tajwid adalah suatu kewajiban. Barang siapa tidak mentajwidkan Al-Qur’an maka akan berdosa, karena Allah menurunkan Al-Quran dalam keadaan tajwid. Lalu malaikat mentalaqqi-kan kepada Rasul dengan tajwid, lalu Rasul mentalaqqikan kepada sahabat dengan tajwid pula. Maka kita harus menjaga Al-Quran ini dengan membacanya dalam keadaan tajwid. Membaca dengan tajwid ini adalah kunci segala keberkahan Al-Qur’an. Ibarat sebuah pintu, membaca tajwid ini adalah kunci pintu tersebut. Bila membaca Al-Quran sebagai syifa/penyembuh, tapi tidak dengan tajwid, maka bagaimana ia bisa menyembuhkan? Begitu pula dengan menggunakan Al-Quran sebagai pengusir jin. Ada ulama yang mengatakan, barang siapa yang membaca Al-Fatihah tidak dengan tajwid, maka kesah-an sholatnya diragukan. Akan terjadi kesalahan-kesalahan dalam makna Al-Qur’an tersebut. Bila kita membaca dengan makhraj yang salah, maka makna Al-Qur’an itu akan berubah.


Kita mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kepada anak kita untuk membaca Al-Qur’an tersebut. Anda akan bias menikmati membaca Al-Qur’an bila membacanya dengan tajwid yang benar.  Bila dibaca tidak dengan tartil, maka tidak nikmat membacanya. Bila seorang ibu belum membaca Al-Qur’an dengan benar, maka adalah kewajiban untuk bisa membaca dengan benar, agar suatu saat nanti bisa mengajarkan kepada anak-anaknya.




(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)
*Origins Truth: Sumber-sumber Kebenaran.